HALO 25 ✋π
Hai.. Kali ini gue mau mengangkat tema yang cukup berat. Gatau yaa malem ini gue pengen meratapi nasib gue ketika menginjak usia 25 tahun.
Iya lu ga salah baca. The real seperempat abad. Orang bilang, di usia 25 tahun, kita mengalami quarter life crisis. Dan kayanya itu terjadi pada diri gue saat ini.
Dikutip dari website Siloam Hospital, quarter life crisis merupakan fase di mana seorang individu akan merasa gelisah dengan masa depannya.
Kalimat di atas sepenuhnya benar, beberapa hari ini, gue mengalami pergolakan batin yang sangat luar biasa.
Gue gelisah dengan karier yang gue capai saat ini. Gue merasa karier yang sekarang gue bangun sama sekali ga bisa diandalkan.
Gue tahu persis bahwa gue ga bisa selamanya berada di sini. Gue sadar itu.
Sedangkan, di luar sana, kualifikasi lowongan pekerjaan sangat di luar logika. "Maksimal berusia 25 tahun." Bahkan, tak jarang gue juga membaca iklan lowongan pekerjaan "Maksimal berusia 23 tahun."
Secara otomatis, peluang gue untuk membangun karier baru di tempat lain pasti sangat terbatas.
Lagipula gue juga gamau lama-lama di sini, ini bukan karier yang gue impikan, tapi gue juga gatau harus ke mana setelah ini?
Sejalan dengan itu, gue juga pusing memikirkan kondisi finansial gue sekarang.
Gue harus mengatur keuangan dengan jumlah gaji yang ga seberapa itu.
Gue harus menabung. Gue harus mengumpulkan uang yang banyak. Meskipun gue belum tahu pasti mau dipakai untuk apa nantinya.
Entah untuk memenuhi kebutuhan pribadi yang gue pengen banget sejak lama, untuk renovasi rumah, atau untuk umroh mandiri.
Gue mau mewujudkan semuanya. Tapi gue tahu, untuk mendapatkan semuanya, gue harus mengumpulkan lebih banyak lagi.
Itulah mengapa, gue selalu berusaha untuk hemat, menahan semua keinginan yang sekiranya masih bisa gue tahan.
Ga terlalu sulit, karena gue sudah terbiasa dengan ini sejak kecil. Bedanya, dulu gue menahan diri karena memang gaada duitnya, sedangkan hari ini, gue menahan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar suatu hari nanti.
Gue gelisah, sampai kapan gue harus seperti ini? Gue pengen banget beli sesuatu tanpa harus berpikir seribu kali hanya untuk memastikan apakah gue butuh banget atau cuma sekadar pengen aja.
hahaha
Di sudut hati gue, gue juga gelisah memikirkan kisah asmara gue. Sebetulnya gue gamau terlalu ambil pusing soal ini, karena gue sadar hidup gue aja masih berantakan.
Tapi mau ga mau gue juga harus mulai memikirkan ini. Apalagi dengan desakan dari eksternal, seperti bokap nyokap, sodara, dan orang-orang di sekeliling gue yang selalu nanyain, "kapan nikah?"
Entahlah, di kehidupan yang sudah memasuki usia panik ini, gue justru sama sekali belum dekat dengan siapapun.
Gue bahkan belum ada gambaran apapun tentang ini.
Gue bukannya mau menutup hati, engga, gue gaada trauma apapun soal percintaan. Tapi emang belum ada aja yang pengen mengenal gue lebih dari seorang teman.
Soal karier, finansial, mungkin masih bisa gue usahain. Tapi kalau soal jodoh, ini terasa berat buat gue.
Ya gimana, sebagai perempuan, gue cuma bisa nunggu. Apalagi cobak yang bisa gue usahain selain menunggu? Gue gatau cara mengambil hati orang yang gue suka. Tapi gue juga lagi ga suka sama siapapun sih. Mangkanya gue bingung.
Yang jelas, gue bisa bayangin gimana pas pertama kali gue sadar kalo dia adalah jodoh gue.
Yang pertama gue lakukan pasti nangis. Terus gue tonjok dadanya sampe bunyi "bug", sambil bilang, "lu selama ini ke mana aja sih? Kenapa baru muncul sekarang? Gue capek nungguin elu ya babi."
Begitu kira-kira.
Terakhir, di tengah semua kegelisahan gue, semoga segera ada titik terang. Gapapa, yun. Bismillah... π
Komentar
Posting Komentar