Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Tentu Saja

Sekarang, aku telah kembali ke masa sebelum aku mengenalmu. Aku tidak menyangka bahwa melupakanmu akan se mudah ini. Aku tidak lagi mengharapkan panggilan masuk darimu, tidak lagi menunggu pesan yang kau kirimkan untukku. Bahkan, aku tidak lagi penasaran dengan isi storymu. Tidak, aku tidak melupakanmu seutuhnya. Aku hanya melupakan tentangmu yang dulu terlihat mencintaiku, tentangmu yang dulu selalu membuatku melukis senyum di wajahku, tentangmu yang sempat membuatku merasa menjadi wanita yang paling berharga. Ah, itu dulu. Tidak, aku bercerita seperti ini tidak dengan membayangkan sosokmu. Tentu saja. Kini semua terasa lebih ringan tanpamu, tanpa orang-orang semacam dirimu. Aku lebih suka kehidupanku yang seperti ini, tidak dekat dengan siapapun, tidak ada kabar yang kutunggu, tidak ada notifikasi favorit. Aku tidak sedang mencintai s ese or ang . Aku hanya sedang memberi waktu untuk hatiku agar bisa lebih leluasa menikmati bahagia. Aku tidak akan lagi mengizinkan siapapun untu...

Sebuah Sinopsis

SUDAHI LALU TINGGALKAN! Buku harianku telah ku simpan dalam-dalam, aku tak ingin membukanya lagi. Ya sejak kau menghilang, aku tak selera lagi untuk hanya sekedar melihatnya. Entah sejak kapan kau berubah, aku tak tahu pasti. Yang jelas, semua terasa berbeda setelah kau pergi. Tak ada lagi panggilan masuk yang dulu selalu terlihat di layar ponselku. Sebenarnya aku selalu suka dengan notif itu, bahkan selalu ku tunggu. Hanya saja aku tak pernah memberitahumu. Mungkin kau terlalu membuatku nyaman, hingga aku tak sadar bahwa waktu itu secara perlahan hatiku mulai terbuka untukmu. Ah kenapa bisa secepat itu. Padahal sebelumnya aku sudah bertekad tidak akan membuka hati untuk siapapun, termasuk dirimu. Karena aku tahu itu akan membuatku terluka. Ha lucu sekali kisahku. Berawal dari ketidakjelasan dan berakhir dengan ketidakjelasan pula. Ketakutanku selama ini pun terjadi. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Tapi rasa kecewa memang tak pernah bisa dikendalikan. ...

Aku

Aku pengembara. Tugasku berkelana sampai muara. Inginku sampai pada tujuan dengan rasa bangga. Tapi terkadang, aku melupakan itu. Aku melupakan perjuanganku dulu. Aku lupa bahwa untuk memulai perjalanan ini tidaklah mudah. Bebatuan, persimpangan jalan, semak-semak yang menghalang. Aku bahkan tak ingat berapa kali aku menyeka pipi ini. Berapa kali aku sesak menahan bulir-bulir air yang tak ku rindukan. Harusnya aku tak semudah itu untuk melupakan. Harusnya itu bisa menjadi alasan untukku membangun benteng pertahanan. Harusnya, harusnya, dan harusnya. Duh, aku malu. Bintangku. Aku malu padamu. Haruskah aku berhenti di tengah jalan? Atau mencari bekal sebanyak mungkin untuk bisa mencapai tujuan? Semoga akan adalagi aku yang memiliki impian sebesar dulu. Bahkan bisa lebih besar dari itu. Semoga, semoga, dan semoga. Surabaya, 8 November 2018 Di bawah langit yang menahan isak tangis -Y...

Monolog "Berhenti"

Jangan lagi menjadikannya alasan untukmu tersenyum. Bukankah kau sudah pernah mengalaminya sebelum ini? Ingin mengulanginya lagi? Hei, hidupmu terlalu singkat jika hanya kau gunakan untuk melakukan hal yang sama berulang kali. Bukankah kau sudah bisa menebak akhir dari ceritamu sendiri? Lalu bagaimana bisa kau menyia-nyiakan umurmu yang sebenarnya dapat kau gunakan untuk hal yang lebih berarti? Aku tidak mengerti apa yang menghantui isi kepalamu sampai detik ini. Yang kumengerti kau selalu memberikan kesempatan untukmu jatuh ke lubang yang sama, m enangisi hal yang serupa, meratapi suatu hal yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Itu terdengar buruk , bukan? Dan akhirnya aku benar-benar tidak mengerti kapan kau akan berhenti menyakiti dirimu sendiri. -Yun-