Aku
Aku pengembara. Tugasku berkelana sampai muara.
Inginku sampai pada tujuan dengan rasa bangga.
Tapi terkadang, aku melupakan itu.
Aku melupakan perjuanganku dulu.
Aku lupa bahwa untuk memulai perjalanan ini tidaklah mudah.
Bebatuan, persimpangan jalan, semak-semak yang menghalang.
Aku bahkan tak ingat berapa kali aku menyeka pipi ini.
Berapa kali aku sesak menahan bulir-bulir air yang tak ku
rindukan.
Harusnya aku tak semudah itu untuk melupakan.
Harusnya itu bisa menjadi alasan untukku membangun benteng
pertahanan.
Harusnya, harusnya, dan harusnya.
Duh, aku malu.
Bintangku. Aku malu padamu.
Haruskah aku berhenti di tengah jalan?
Atau mencari bekal sebanyak mungkin untuk bisa mencapai
tujuan?
Semoga akan adalagi aku yang memiliki impian sebesar dulu.
Bahkan
bisa lebih besar dari itu.
Semoga, semoga, dan semoga.
Surabaya, 8 November 2018
Di bawah langit yang menahan isak tangis
-Yun-
Komentar
Posting Komentar