Sebuah Features

Tekad yang Tinggi sang Pejuang Semanggi


“Wanita yang duduk di bawah pohon rindang itu berusia sekitar empat puluh tahunan, dengan tatapan penuh harapan, ia mengamati sekelilingnya sambil sesekali menawarkan barang dagangannya.”
Hari ini dengan semangat sehangat mentari, tepat pukul 06.00 pagi dimulailah kegiatan rutinitas di Taman Bungkul Surabaya. Beberapa pemuda dan pemudi tampak sedang tertawa bersama teman-temannya, bercengkrama, membeli jajanan, atau hanya sekedar berjalan-jalan menikmati udara pagi di kota pahlawan ini.
Terlihat pula ratusan pedagang yang mencoba mengadu nasib di area taman dan di pinggiran Jalan Raya Darmo. Di antara keramaian tersebut, dijumpai seorang wanita yang duduk di tepi parkiran sambil sesekali menghela napas panjang. Ibu Tuti namanya, sudah lebih dari satu dekade ini ia menggeluti dunia kuliner. Kuliner yang dipilih untuk membantu menopang kehidupannya selama ini ialah pecel semanggi.
Pecel semanggi sendiri merupakan makanan khas Surabaya yang berbahan dasar semanggi dengan bumbu yang terbuat dari ubi serta ditemani oleh krupuk puli khas pecel tersebut. Makanan yang dihargai tidak kurang dari 10 ribu rupiah itu dihidangkan dengan cukup sederhana, yaitu daun pisang yang dilapisi dengan koran lama.
Tidak hanya Ibu Tuti, ada sekitar 20 pedagang yang menjual makanan yang sama. Ketika ditanya mengenai persaingan, dengan merapikan helaian rambut yang tak sengaja keluar dari penutup kepalanya ia pun menjawab, ”Ya kalau itu, rezeki sudah ada yang ngatur. Gusti Allah gak mungkin membiarkan Hamba-Nya kelaparan.” ungkapnya.
Berjualan di area ilegal, membuat ibu yang memiliki dua orang anak ini sedikit cemas. Pasalnya, tak jarang ada razia dadakan yang sudah pasti akan menyulitkan atau bahkan melenyapkan mata pencahariannya. Namun hal tersebut tak lantas membuat Ibu Tuti menyerah, ia menjadikan halangan sebagai tantangan yang harus dihadapinya. “Misal ada kabar mau dirazia Satpol PP ya saya sama yang lainnya buru-buru pindah tempat dan sembunyi, kalau gak gitu ya pasti ketangkep. Barang dagangannya ini dibawa semua sama mereka.” jelasnya.
Hanya pada hari sabtu dan minggu, wanita berkerudung coklat tersebut berjualan di area Taman Bungkul, selebihnya ia berjualan nomaden dari TK satu ke TK lainnya. Terik matahari sama sekali tak menyurutkan semangatnya, baginya masa depan kedua anaknya harus lebih baik daripada dirinya di masa kini.
Pesan dari Ibu Tuti untuk generasi muda. “Sekolah yang bener, kuliah yang serius. Jangan sampai mengecewakan orang tuamu yang bekerja keras demi masa depanmu.” Kisahnya membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada yang instan, semuanya membutuhkan proses yang panjang.
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menekuni rutinitas yang tak banyak orang bisa melakukannya, apalagi ia seorang wanita. Senyum anak-anaknya lah yang selama ini menjadi tombak semangat untuk tetap bertahan dalam kehidupan di kota Surabaya yang terbilang cukup kejam bagi orang-orang sepertinya. (yun)

Ahad, 2 Desember 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita pendakian tektok jabal Penanggungan

HALO 25 ✋😊

Beberapa cuil seputar kisah ulang tahun gue