Mau ketemu paklek ketua komunitas kereta itu lagi

Sayang aku tlah jatuh cinta
Cinta pandang pertama
Jumpa di stasiun kereta...

4 hari belakangan ini lagi seneng-senengnya nyanyi lagu itu. Tidak lain dan tidak bukan ya karena terlalu relate dengan apa yang kurasakan saat ini hahaha
Iya, jadi teman-teman, sepertinya aku sedang jatuh cinta sama donatur tetap PT KAI.
Kenapa kusebut donatur tetap? Yaaa karena sosok tersebut telah riwa riwi hampir tiap hari Lmg-Sby selama 9 tahun naik kereta.  Wow! Harusnya KAI ngasih reward dong ke paklek² ini.
Ya sebut saja dia paklek, gue memang gatau siapa namanya. Gue ga kenalan nama sama dia. Tapi yang jelas, obrolan kita malam itu begitu menyegarkan.
Sebetulnya, hari itu gue sengaja pergi ke Surabaya untuk menghadiri undangan interview.
Tadinya gue mau naik motor aja biar ga ribet, tapi setelah gue pikir-pikir ternyata gue belum berani motoran antar kota sendirian. Yaudah akhirnya gue naik kereta aja.
Jadwal berangkatnya beneran pagi-pagi buta banget sampai-sampai gue hampir ketinggalan. Hahaha emang hobi banget ketinggalan kereta dah keknya.
Sesampainya di sana, gue dijemput tuh sama ojek pribadi gue, kita kopdar lah di masjid balai kota sampai siang.
Terus dia anter gue ke acara inti alias ke lokasi interview. Singkat cerita, gue selesai interview, jalan-jalan bentar di Transmart pake helm ungu, terus balik ke stasiun untuk kemudian cus pulang.
Gue nunggu jadwal kereta cukup lama, 2 jam an lah sampe baterai hp gue lowbat.
Lalu gue naik kereta. Gue yang saat itu sedang galau brutal karena masalah kantor + interview kerja yang kurang berjalan mulus meniatkan diri untuk menikmati perjalanan sembari meratapi nasib. Tapi ternyata...
Gue duduk di depan ibu-ibu dan anaknya yang telah dewasa. Biasalah kalo sama ibu-ibu pasti ada momen basa-basi bentar, tapi ga lama kemudian mereka turun di stasiun setelahnya.
Di stasiun itu pula naiklah seorang bapak-bapak. Dia duduk di samping gue yang sebenernya lagi pengen sendirian. Tapi semesta seolah ga mengizinkan gue untuk menggalau. Bapak itu curhat kalau dia salah naik kereta. Dia bingung karena rute kereta ini ga sampai ke stasiun tujuannya. Akhirnya dia turun di stasiun setelahnya untuk naik kereta yang lain. Ada-ada aja dah bapak-bapak ini.
Nah, di stasiun inilah gue bertemu dengannya. Sesosok pria tinggi berkulit gelap (kenapa deskripsinya kek genderuwo sih wkwkw) ya intinya dia hitam manis lah alias tipe gue banget.
Dia memutuskan duduk di samping gue yang kebetulan saat itu masih duduk sendirian memandang ke jendela.
Dia juga mengajak 2 orang pria lainnya untuk duduk di depan gue. Awalnya, gue merasa sedikit ga nyaman dikepung bapak-bapak begini wkwkwk
Tapi ternyata paklek berjaket yang duduk depan gue tuh orangnya lumayan bisa mencairkan suasana.
Kita basa-basi bentar.
"Turun mana mbak?"
"Pucuk mas."
"Loh podo karo sebelahmu."
"Loh iyo ta?" "Bareng mas." ucapku sambil menoleh ke paklek-paklek samping gue.
Terus mereka bertiga lanjut ngobrol, salah satu dari mereka kemudian sibuk membaca yasin karena saat itu emang malam Jumat.
Dari penampilan dan obrolan mereka, gue bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang yang abis pulang kerja.
Entah kenapa gue larut dalam obrolan mereka, bahkan gue sesekali nyeletuk ikut nimbrung karena topiknya cukup menarik.
Dari mulai paklek-paklek samping gue cerita kalau adeknya abis kecelakaan sampai kepalanya dijahit, bahas perjalanan pulang masing-masing, bahas rute kereta, stasiun kereta, sampai bahas bus tayo hahaha paklek jaket ini sepertinya hobi sekali berbicara.
Bahkan, pas ada pemeriksaan tiket, kan hp gue lowbat, setor KTP dah tu biar dicek manual, eh paklek jaket ini nyeletuk dong "KTPne sek anyar" "wkwkw gakk, ancen jarang digawe" kata gue.
Tapi meskipun dia yang paling heri dari tadi, entah kenapa perhatian gue tetap tertuju pada paklek samping gue.
Apa karena kita turun di stasiun yang sama?
Yang jelas, pas gue perhatiin, dia ini tipikal orang yang ga banyak omong, tapi menyenangkan.
Dalam hati gue, ini orang pasti abis ini ngajak gue ngobrol.
Hal ini terbukti pas dua orang di depan gue ini turun dan tinggal menyisakan gue dan dia.
Langsung beraksi dong, kita ngobrol dari hati ke hati dah tu. Yang tadinya pas ditanya paklek jaket "Ke Sby ngapain?" Gue jawab diplomatis dengan berkata "Dolan", akhirnya gue ngaku ke paklek itu kalau gue abis interview. Hahaha
Terus gue nanya ke dia tentang rasa penasaran gue dari tadi, "mule kerjo ta mas?" "Iyaa" "kerjo nang ndi?" (Dia jawab daerah mana gitu yang jelas asing di telinga gue) "PP mbendino?" "Iyaa" "Lapo ga ngekos?" "Larang mbak, kosan paling murah 500k durung liyane" "Ng kerjoane sampeyan ga onok info loker ta mas?"
Ntar dulu, kenapa jadi gue yang banyak nanya yaa..
Oke gantian, dia pun nanya-nanya balik, mulai gue kuliah di mana, pertama ke Sby tahun berapa, awal kuliah tahun berapa, kelahiran tahun berapa (gue gatau urgensinya nanya itu apa? Apa mungkin dia mau tes kecocokan shio kita? Xixi), gue kerja di mana sekarang, tapi bagian itu gue ogah jawab.
Dia juga nyaranin gue untuk apply di salah satu perusahaan di daerah sana. Gue jawab "iya nanti tak cobak e." (Mungkin gue mau bener-bener nyoba, ga sekadar jawab formalitas).
Berbagai topik obrolan lainnya pun mengalir begitu saja. Kami juga bercyanda bercyaandaa bersama. Sampai-sampai gue berharap kereta ini bisa membawa kami berjalan lebih lama lagi.
Tentu mustahil dong yaa.
Akhir kata, gue pun nanya "wes suwe ta kerjo nang sby?" "lumayan mbak, 9 tahun"
Anjirrrr gue kaget dong, gimana ya... antara salut, kagum, sama mikir "ini orang umur berapa sih sebenernya?"
Baru aja gue mau nanya udah nikah atau belum, eh dia nyeletuk "siap siap mbak" alias udah mau nyampe stasiun tujuan donggg. Mau ga mau kita harus turun. (Sosad)
Oh iyaaa, gue lupa memberi info bagian terpenting. Ternyata paklek itu dan paklek-paklek yang tadi chill bareng gue bukan temen kerja woi, alias mereka kenal di kereta.
Dan temen paklek ini bukan mereka doang, gue bahkan sempet dikenalin sama temennya yang lain yang pulangnya searah sama gue.
Buseddd gue baru ngeh kalo mereka ini ternyata komunitas donatur tetap KAI.
Udah sih itu aja.
Endingnya, gue pulang dengan membawa rasa penasaran karena gue gatau dia umur berapa dan apakah masih single??
Kenapa itu kesannya kek penting bangettt? Ya karena gue kayanya jatuh cinta sama tu paklek-paklek.
Sumpah perasaan ini aneh betul. Tapi gue bertekad untuk ketemu dia lagi sih. Semoga yaaa (dia belum punya pasangan). Biar kisah ini bisa gue terusin sampai happy ending seperti FTV SCTV.

Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita pendakian tektok jabal Penanggungan

HALO 25 ✋😊

Beberapa cuil seputar kisah ulang tahun gue