Sepucuk daun teh alami

Saya A'yun ingin mengucapkan HADEEHHH!!!

Gatau ya gue pusing banget akhir-akhir ini. Mungkin oskadon sekarung juga ga bakal bisa mengobati kepusingan gue kali ini.

Kalau lu tau masalah yang sedang gue hadepin sekarang, pasti lu akan bergidik ngeri. Oke gue harus mengakui kalau gue akan menjadi calon pengangguran lagi alias gue mau resign dalam waktu dekat.

Sebenarnya gue ga sedemikian mau dan pengen banget jadi jobseeker, tapi ya mau gimana lagi, mungkin sudah takdirnya perjalanan hidupku harus melalui jalan gronjal-gronjal seperti ini.

HAHAHA agak lucu juga yaa kalo dipikir-pikir, gue bahkan belum menceritakan awal perjalanan gue meniti karier di perusahaan antah berantah ini, eh udah mo minggat aja wkwkw.

Yaudah gue ceritain sekalian aja kali yaa.

Alkisah di sebuah dusun, hiduplah seorang gadis yang sedang dilanda kebingungan tak berujung, dia kerja, tapi selalu dituduh pengangguran.

Karena ia orangnya gampang kepikiran setiap kali tetangga nanya, "Nona, sudahkah kau mencari kerja?" atau "Nak, kau bekerja di mana sekarang?", akhirnya ia pun mencoba mengirim surat cinta kesana kemari.

Hari demi hari berlalu hingga suatu pagi nan cerah penantian itu pun berakhir, ia dipanggil oleh baginda raja untuk mengisi posisi yang cukup diminatinya di sebuah istana. Dengan lantang, ia pun menerima tawaran itu.

Sebetulnya ia cukup nyaman bekerja di sana, tidak banyak manusia, sangat cocok dengan kepribadiannya yang introvert. Bukan self diagnose ya, ia sudah tes kepribadian berulang kali dan hasilnya tetap sama, INFP.

Kalo boleh memilih, sesungguhnya ia lebih suka jadi extrovert yang gampang bergaul, punya banyak teman, dan senang berkumpul di keramaian. Sayang, setiap selesai ketemu orang banyak, energinya selalu terkuras habis sampai harus ngurung di kamar berjam-jam hanya untuk nge-charge energi.

Jadi introvert emang ribet sekali.

Napa jadi bahas kepribadian woyy? Okey balik lagi, tapi gue mau mengubah sudut pandang yang semula orang ketiga menjadi orang pertama tunggal alias diriku sendiri. Capek juga lama-lama nge-dongeng.

Sebulan dua bulan gue cukup betah di sini, iyaaa ini jujurly gue betah (ga pake banget ya). Ya gue seneng lah, udah mah kantornya deket rumah (30 menit naik motor termasuk deket kan?), kompensasinya juga lumayan.

Tapi di mana ada kelebihan di situ pasti ada kekurangan dong ya, iyaa gaji gue macet cuy. Dari awal gue masuk, gaji emang suka telat si, tapi ga parah.

Lah ini, masak gaji bulan Juni dibayarnya Agustus, udah gila apa yak?

Jadi, sebagai sosok manusia yang cukup perhitungan, gue bener-bener harus menekan pengeluaran gue selama itu. Untung pas Juli gue banyak job nulis ijazah jadi lumayan lah gue talangin dulu pake duit freelance gue.

Oiya, sebelum gue terjebak di situasi ini, gue udah lebih dulu kerja full WFH jadi content writer di salah satu media online yang cukup punya nama.

Kenapa gue lebih memilih di sini? Satu, karena gue males ditanya-tanya mulu sama orang-orang yang beriman. Dua, karena penghasilan gue di situ sama sekali ga pasti.

Bulan ini bisa lumayan, bulan depan kureng, bulan depannya lagi Alhamdulillah. Dan gue ga suka hidup dalam ketidakpastian seperti itu, jadi gue putuskan untuk menerima kantor yang sekarang dengan pertimbangan gue bakal double job. Pikir gue lumayan kan dapet 2 pemasukan.

Tapi ternyata oh ternyata, double job tak semudah double date, gue sama sekali ga bisa bagi waktu alias gue males banget nulis coy.

Iya ini salah gue, salah temen-temen gue.

Dan akhirnya, di sinilah gue, saat menulis ini gue sedang berada di kantor, pakai laptop kantor, dan di sebelah gue ada temen kantor.

Gue menulis ini sesaat setelah manager gue memberikan informasi yang sangat mengejutkan, yang membuat gue ingin sekali mengucapkan kalimat toyyibah berbunyi astaghfirullah dan innalillahi wainna ilaihi roji'un.


[To be continued] *kalo ga males.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita pendakian tektok jabal Penanggungan

HALO 25 ✋😊

Beberapa cuil seputar kisah ulang tahun gue