Cerita pendakian tektok jabal Penanggungan
Di sini gue mau ceritakan pengalaman gue mendaki gunung Penanggungan. Sebetulnya, kisah ini terjadi sudah sejak 1 bulan yang lalu, tapi gue bener-bener baru sempet menuliskan ini sekarang.
Kenapa sih kok gue harus nulis banget? Ya karena gue merasa perjalanan ini sayang kalo cuma didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Menurut gue, foto dan video kurang efektif dalam mendefinisikan rasa.
Oleh sebab itu, gue akan mengabadikan momen tersebut dalam bentuk tulisan ini. Yaa semoga gue masih inget setiap detail perjalanan kami.
Kenapa gue bilang kami? Iya, gue ga sendirian. Perjalanan ini gue lakukan bersama manusia yang biasa gue panggil Sumiati (bukan nama sebenarnya).
Kita memang sudah lama merencanakan pendakian kedua ini (betul kita udah pernah mendaki sebelumnya ke Puthuk Gragal, jadi ga bisa dong dikatakan newbie banget). Dan jangan pernah sebut kita pendaki fomo ya, karena memang hobi mendaki ini sudah ada sejak gue duduk di bangku kuliah, ya meskipun pada saat itu gue belum pernah mendaki sama sekali.
H-1 keberangkatan, kita belum persiapan apapun, gue jarang olahraga, belum beli sepatu, bahkan tujuan gunung yang mau kita daki pun belum ada. Sangat prepare sekali yaa.
Pada saat itu, kita bener-bener bingung, enaknya ke Watu Jengger atau Lorokan ya? Kebingungan itu masih berlanjut bahkan sampai hari H.
Pagi pagi buta (agak kesiangan) di tanggal 8 September 2024, temen gue jemput gue di depan kosan. Di situlah kita kembali memutar otak, "gunung mana lagi nih yang mau kita taklukkan?"
Temen gue dengan ide briliant nya bilang, "ke Penanggungan aja ta woi?" "aja?" aja lu bilang? Ada gila-gilanya ini orang.
Bagaimana bisa, opsinya Watu Jengger sama Lorokan, tiba-tiba konklusinya Penanggungan.
"Selisih 200 mdpl doang woi sama Puthuk Gragal" kata dia tanpa merasa berdosa. Gue menghela napas panjang.
Baiklah, karena gue suka tantangan, akhirnya gue iyain aja biar cepet.
Ok, kita berdua memutuskan untuk ke Penanggungan. Fiks nyari perkara.
Di perjalanan, gue minta dia buat nyari tempat penyewaan sepatu hiking. Gue tahu keputusan ini cukup nekad, tapi gue tetep berusaha mengedepankan akal sehat gue.
Ya lu bayangin aja, kita berdua mau ndaki gunung yang literally gunung, bukan puthuk lagi, masak mau pake sepatu main yang sudah udzur dan sudah sepantasnya masuk museum.
Gue gamau ambil risiko, jadi yaudahlah mending nyewa, paling berapa sih? "Elek-elek an 50k kali ya?"
Di tempat penyewaan, ternyata sewa sepatu hiking lebih murah dari yang gue kira. "Cuma 35 woi, lu gamau sewa sekalian ta?" kata gue.
"Enaknya sewa ga ya?" Masih butuh pertimbangan dong, dia ini ga sadar atau gimana sih kalo kita mau ndaki gunung Penanggungan woi, bukan Gunung Sari apalagi Gunung Anyar.
"Kata gue sih sewa aja sekalian, biar safety" ucapku bijak hahaha
Ok, dia pun akhirnya sadar diri dan ikut nyewa bareng gue. Saat itu, kita berdua berasa pendaki beneran.
Gue sama dia bergumam, "kalau seprepare ini sih nanggung ya kalo cuma Penanggungan, Arjuno sekalian gimana?" Wah parah, kita berdua semakin jumawa.
Pukul 07.00 WIB, kita pun sampai di Basecamp pendakian gunung Penanggungan, niat hati untuk ke Arjuno kita urungkan karena keterbatasan waktu... dan tenaga tentu saja.
Kita mulai registrasi, lalu ada paklek-paklek yang menjelaskan terkait medan yang akan kita hadapi nantinya. "Bused ini kok keliatan serius banget yaa? Apakah memang sebahaya itu di atas sana?" batin gue.
Kita diminta pakleknya untuk membawa air minimal 2 botol besar, "Di atas tidak ada mata air," katanya. Tidak lupa ia juga mengingatkan bahwa sebelum gelap kita harus sudah turun karena kita ga bawa headlamp.
Emang kita ini pendaki tanpa persiapan, asal lu tahu aja, gue cuma bawa minum 1 botol 800 ml dan mie goreng. Udah. Sedangkan temen gue, seperti biasa, dia bawa air dan roti.
Logistik kita sama sekali ga memenuhi syarat sebetulnya, biar agak pantes dikit, kita berdua akhirnya beli minum masing-masing 1 botol lagi.
Kita cek dulu, apalagi ya yang kurang? "Oiya gue pengen pipis woi" "iya gue juga."
"Duh, kayanya ga sepengen itu deh," gumam kita berdua setelah tahu toiletnya bayar Rp3.000 hahaha
Ok dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim dan restu ayah bunda, kita berdua pun memulai perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan ini.
Dari basecamp (pos 1) menuju ke pos 2 kita lalui dengan cukup mudah, ya bisa dibilang no effort lah.
"Ga sia sia ini kita jogging." Padahal kita berdua jogging pun bisa dihitung jari, ga seintensif itu.
Kita berhenti di pos 2. Di sana ada warung dan iyup iyupan. Kita pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil minum-minum.
Tak lama kemudian, kita pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos 3. Buset ternyata lumayan juga yaa trekkingnya, lumayan menanjak dan gaada landai-landainya sama sekali.
Di perjalanan menuju pos 3 ini, jalur dipenuhi dengan bebatuan yang bisa digunakan untuk pijakan. Vegetasinya cukup rapat sehingga tidak terlalu panas.
Track yang menanjak membuat kita kelelahan, gampang banget cape elah. Dikit-dikit istirahat, dikit-dikit minum, dikit-dikit ngajak ngobrol orang random.
Sesampainya di pos 3, kita berdua kembali istirahat di tempat. Gue ga nyangka sih kalo gunung bisa serame ini. Di sini banyak banget pendaki lain, baik itu yang solo, duo, atau berkelompok.
Di sini, gue juga kenalan dengan bapak-bapak gaul yang belakangan gue ketahui bernama pak Arief. Kagum banget gue sama ini orang, udah tua (maksudnya dewasa) tapi masih tahes dan seru.
Di sini pula gue tahu mas Salam. Dialah otak di balik keramaian gunung Penanggungan kala itu.
Bagaimana tidak, dia merupakan ketua geng (opentrip ala ala) yang iklannya sempet lewat di Instagram gue.
Pas gue tanya, ternyata ada sekitar 50 an jiwa yang join tripnya di hari ini. Angka yang cukup fantastis, bukan? Pantesan aja ini gunung sempit banget dari tadi hahaha
Dengan jurus sksd gue, gue minta join di grup WhatsApp pendakiannya yang dijuluki "Alamku Adventure", meskipun gue ga masuk ke dalam kelompok itu.
Oiya, di pos ini, kita berdua juga dikasih choki choki oleh mbak mbak misterius yang ga gue kenal. Btw makasih, mbak. Kita mah mana kepikiran bawa gitu-gituan.
Setelah cukup lama beristirahat, kita berdua melanjutkan perjalanan. Iya, meskipun banyak banget kenalan di jalur, tapi kita tetep aja jalan berdua.
Kenapa gitu? Kita sadar dengan kemampuan yang kita miliki, mangkanya kita jalan santai aja, gamau membebani orang lain. Lagian orang yang dibebani juga belum tentu mau.
Singkat cerita, setelah sampai di pos 4 tidak ada hal yang menarik. Yaa gitu-gitu aja, ngobrol sama strangers, tanya macem-macem kecuali satu, nama.
Gue ga ngerti yaa, mungkin ada peraturan tak tertulis kalau di gunung ga boleh kenalan nama wkwk engga sih itu cuma karangan gue doang.
Tapi dalam prakteknya, kita memang jarang banget kenalan nama satu sama lain. Paling mentok-mentok mutualan Instagram.
Ok, track kali ini semakin menanjak, semakin panjang jalurnya, dan semakin capek jelasinnya. Gue bahkan udah lupa sama detail perjalanan ini. Intinya gue capek yaallah. "Ngapain sih kita di sini hahaha" begitulah kira-kira gambarannya.
"Kita emang nyari capek sih" "iya capek yang ga disuruh-suruh orang, capek yang mana karena kemauan dan keinginan kita sendiri" itu obrolan kita sepanjang perjalanan.
"Untung nyewa sepatu." Itu juga 3 kata yang sering banget kita lempar selama perjalanan. Ya, kita memang harus sering-sering mensyukuri hal-hal sederhana yang ternyata impact nya gede juga.
Keknya gue mau langsung loncat ke puncak bayangan.
Kita sampai di puncak bayangan bersama pak Arief (yang mana sering banget berpapasan sepanjang jalur), beliau mutusin buat foto-foto dulu. Sementara kita? Gue cuma memotret panorama alam seadanya sambil dinikmati dan disyukuri, lalu istirahat.
Wah keren banget sih puncak bayangan ini. Hamparan luas dataran yang dipenuhi oleh tenda-tenda para pendaki lain yang semalem ngecamp di sini.
Dari kejauhan, gue lihat Pawitra, puncak tertinggi di gunung Penanggungan yang berwarna hijau alam. Batin gue, "bisa ga yaa gue naik ke situ?" Ya bisa lah kocak.
Oiya, kaget banget gue lihat ada warung coy di sini. Wah keren sih. Banyak hal yang baru gue ketahui dalam perjalanan ini.
Kita berdua pun istirahat sambil ngobrol, gaada sama sekali keinginan buat foto-foto anjir, gue capek.
Dan ini gunung apa sih woi? Panas banget parah. Mana sepanjang jalur juga berdebu semua, heran gue.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, setelah kita istirahat satu jam, kita pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan summit.
"Lu yakin woi?" "Nanggung ga sih kalo cuma sampe sini" "Namanya juga penanggungan, serba nanggung" "Ga bisa lah kalo cuma sampe sini doang" "Yaudah ayok."
Dengan penuh kepercayaan diri dan semangat yang membara, kita berdua pun melangkahkan kaki kita ke puncak Pawitra. Iya, berdua.
Jangan tanya pak Arief di mana, gue juga gatau keberadaannya. Ya namanya juga beda rombongan.
"Estimasi 1 jam an" "paling kalo kita 2 jam an" pikir gue.
Baru beberapa langkah menuju summit, kita bertemu dengan salah satu pendaki dari atas yang sedang istirahat.
"Turun, mas?" "Iyo iku arek-arek turu."
Kita ngobrol banyak, dan tahu kalo kita ternyata satu almamater, bahkan satu fakultas.
"Lek aku durung munggah ngunu tak kancani mbak." Lah gue ga minta ditemenin sih, tapi dengan dia ngomong begitu, gue jadi kepikiran, emang sedahsyat apa sih di atas?
Kita berdua pun lanjut jalan dan say goodbye dengan pemuda tersebut.
Sebelum memasuki gerbang neraka (sebutan paling pas karena gue di jalur ini antara hidup dan mati), kita bertemu dengan dua sosok yang sedang mencari rombongannya.
"Mbak, ngerti mas-mas jaket ungu gak?"
"Engga se."
Kita berdua kembali berhenti untuk istirahat, sembari menemani dua pemuda asing ini.
Untuk mengisi kekosongan, kita pun ngobrol seputar seleksi cpns. Oke, bukan waktu yang tepat untuk bahas ini, tapi yang namanya ngobrol kan bebas yaa mau tema apa.
Sambil menunggu temannya yang masih hilang dari radar, kita pun melanjutkan perjalanan bersama berempat.
Ok, gue sedikit lebih lega karena ada barengan. "Setidaknya kalo gue menggelinding ada yang nangkep, atau minimal ada yang ngasih kabar ke keluarga gue" batin gue hahaha
Gue gatau anjir kalo summitnya segila ini. Gue belum research. Untung ada dua pemuda ini.
Ga lama kemudian, makhluk berjaket ungu pun muncul bersama seorang wanita yang nanti gue ketahui bernama Tya.
Pertemuan gue dengan Tya cukup menarik sih, dia minta tolong buat masangin tali *** nya yang lepas. Ok ga seharusnya ini dijelasin secara gamblang di sini. Kalo dia tau pasti ngamok wkwk
Begitulah, di gunung, stranger pun rasa sahabat, rasa keluarga, seperti konco kentel. Itu mengapa gue selalu suka mendaki (padahal baru dua kali).
Weee tim ini semakin gendut, yang tadinya berempat, sekarang jadi berenam. Atau lebih tepatnya, gue dan temen gue yang nebeng rombongan ini hahaha
Sepanjang perjalanan, kita pun saling bertukar cerita, saling beradu punchline, tapi sambil deg degan.
Rasanya pengen nyerah aja yaallah, tapi nanggung. Sialan emang.
Untungnya, ada mereka bertiga yang gotong royong buat membantu kita naik. Gue benci nyebut ini, tapi kita berdua emang bisa dibilang beban sih hahaha
Singkat cerita, yang sebetulnya gaada singkat-singkatnya, karena perjalanan yang harusnya kita tempuh dalam waktu 1 jam menjadi 2,5 jam. Wow kerja bagus, yun.
Alhamdulillah allahuakbar!!! Akhirnya sampai juga di puncak PAWITRA.
Eits, jangan seneng dulu yuun. Iya lu bisa naik, tapi jangan lupa lu masih ada tugas untuk turun. Yaelah pikir nanti deh.
Sekarang, kita harus tersenyum lebar, buka mata lu lebar-lebar, karena di depan lu ada lautan awan coyyy.
Karena cuacanya lagi cerah, oke ini saat yang tepat untuk minum es hahaha anjir saking nyamannya minum es dengan view cantik dan hempasan angin puncak, gue jadi lupa mengabadikan momen.
Ternyata di sini juga ada yang jualan es woi, bukan maen. Saking kagumnya, gue langsung wawancara pada saat itu juga.
Di puncak, gue bertemu lagi dengan pak Arief, mas Salam dan Syifa ga pake Hadju, dan beberapa pendaki lainnya yang sempat gue temui di jalur.
Kita ngobrol banyak banget, bercanda, sumpah kaya udah kenal sejak zigot.
Terus tiba-tiba berkabut, nah inilah saat yang tepat untuk foto-foto. Emang udah kebalik pola pikirnya.
Kita di puncak cukup lama, aman sih, gue udah bilang ke rombongan tadi "engko lek mudun barengi po o, plis" dengan pasang tampang sekasihan mungkin. Ga biasanya gue mau dikasihani.
Tapi gue yakin sih, tanpa meminta, mereka pasti akan menemani gue dan Sumiati. Gue tau kalian orang baik :)
Perjalanan turun, personel bertambah, 6 orang plus Salam dan Syifa. Lagi lagi gue gatau keberadaan pak Arief. Ilang-ilangan kek gunting kuku.
Sudah gue duga, perjalanan turun pasti 2 kali lebih menyeramkan daripada pas naik. Turun gunung adalah musuh bebuyutan gue, turun gunung adalah maut.
Gue tahu, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan, gelap dan terang, yin dan yang, termasuk naik dan turun gunung. Ga bisa milih salah satu.
Apapun itu, harus gue hadapi dengan full senyum, yaa meskipun diwarnai dengan tereak-tereak dikit, terpeleset berkali-kali, dan kaki tremor.
Jujur, bisa turun sampai di puncak bayangan aja rasanya udah lega banget. Akhirnya, bisa melewati rintangan ini, meskipun dengan bantuan sana-sini. Ga papa yang penting ga ngerepotin tim sar wkwk
Tapi sialnya, kita sampai di puncak bayangan pas kondisi cuaca udah mau gelap. Kita foto bentar karena tadi pas naik ga sempet foto. Lalu, kita pun melanjutkan langkah kaki yang udah mati rasa ini.
Duh, ga bawa headlamp, sedangkan langit sudah semakin gelap. Ga papa. Gue mencoba turun secepat yang gue bisa dengan bantuan senter hp. Bahkan, kita istirahat hanya di pos-pos pemberhentian aja karena emang ngejar waktu.
Kita berdelapan sempat berpisah karena ada pendaki lain yang butuh pertolongan. Beberapa dari rombongan ada yang membantu proses evakuasi. Sedangkan gue dan temen gue ini, kita berdua cukup nolongin diri sendiri.
Kita berhenti di pos 4 untuk istirahat, minum dan makan pemberian sukarela dari pendaki lain karena logistik kita sudah habis tak tersisa.
Kita juga berhenti di pos 3. Cukup lama. Bahkan, gue sempet menikmati citylight hingga terlelap. Ternyata gunung di malam hari ga seserem itu.
Kita juga berhenti di pos 2. Ini yang paling lama. Kita ngobrol banyak, saling bertukar pikiran, saling bercerita tentang hari itu, sesekali sibuk dengan lamunannya masing-masing. Semua kita lakukan sambil rebahan di warung orang.
Setelah mengubah lelah menjadi saldo shopeepay, kita pun akhirnya turun ke basecamp.
Kita sampai di basecamp sekitar pukul 20.30 WIB. Dan lu semua tau, pas gue lihat basecamp dari kejauhan, gue langsung teriak "woi kita selamat" hahaha yakin gue berasa hilang dan tersesat di hutan selama seminggu wkwk
Kayanya cuma gue dan Sumiati yang berpikir demikian, karena faktanya, cuma kita berdua (dan Tya) yang paling pemula di antara makhluk lainnya.
Tapi serius, perasaan gue ketika sampai di basecamp lebih bahagia daripada ketika sampai di puncak. Apakah semua pendaki juga merasa demikian?
Pada intinya, gue banggaaa banget sama diri gue sendiri. Kalian bangga ga sih sama gue? Harusnya sih bangga yaa.
Tapi gue juga bersyukur bisa bertemu dengan sosok Roziqin si pak ustad, Miftah si kepala sekolah yang pake jaket ungu, mas Diky, Tya, mas Salam si founder, Syifa tapi bukan pacarnya El Rumi dan bukan pula sahabat inspektur Ladusing, serta pak Arief yang gue temukan lagi pas di basecamp, padahal selama perjalanan turun beliau gaada. Aneh bener.
Gue ukir semua namanya di sini biar gue ga lupa.
Terima kasih sudah menemani petualangan random gue dan Sumiati, perjalanan yang ga mungkin gue sesali. Bahkan, selalu kekal abadi dalam memori dan tulisan ini.
Semoga kita akan berjumpa dalam petualangan yang lebih seru lainnya. See you soon. Byeee :)
*Disclaimer: Semua yang gue lakukan di sini adalah adegan berbahaya, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang profesional. Kalau masih pemula diharapkan jangan sejumawa ini. Siapkan bekal dan mental dengan baik hahaha

keren kak pengalamannya ππ»ππ»ππ»ππ»
BalasHapusnext gunung everest yh
BalasHapusSi paling profesional gak tuhhhh
BalasHapusWOIIUIUU MALU BANGET PERTEMUANNYA KITA
BalasHapusAkhirnya gue punya cerita. Yg di ceritain ketua OSIM
BalasHapusSummit Gunung Jayawijaya kapan bang?
BalasHapus